TULISAN INI BERHASIL MENDAPAT LABEL "PILIHAN" (HIGHLIGHT) DI  KOMPASIANA.COM Konsep paperless telah menjamah segala lin...

Sinergi antara Kertas dan Kemajuan Teknologi dalam Peradaban Modern


TULISAN INI BERHASIL MENDAPAT LABEL "PILIHAN" (HIGHLIGHT) DI KOMPASIANA.COM


Konsep paperless telah menjamah segala lini kehidupan, gerakan nasional non tunai adalah salah satu contohnya. Mengurangi penggunaan lembar Rupiah, cashless adalah sebuah keinginan untuk membuktikan bahwa kertas sudah waktunya untuk dikesampingkan. Konsep paperless tersebut mulai digalakkan, ialah sebuah konsep yang diharapkan akan sangat efektif untuk menghemat kertas, tak lain guna mengurangi penebangan hutan.

Pergeseran pemesanan tiket secara manual kepada tren booking online yang memunculkan sebutan e-ticket melahirkan persepsi baru pada masyarakat bahwa kertas sudah menjadi barang antik nan kuno yang harus dimuseumkan dan dipensiunkan dari peradaban. Penambahan huruf “e” sebagai alat bantu di setiap lini kehidupan, semacam e-book, e-mail, tentunya e-ticket, membuat kertas mulai semakin tak dikenal.

Bahkan sering terngiang dalam dunia pendidikan, keinginan mahasiswa untuk tidak lagi menggunakan kertas sebagai media penulisan skripsi semakin gencar disuarakan. Kehadiran teknologi yang menghiasi peradaban modern membuat manusia lebih bahagia untuk bercinta dan bermesraan bersama gadget-gadget canggih, yang dirasa dapat menghimpun data lebih banyak dengan cara yang praktis, daripada harus membawa berlembar-lembar kertas yang akan lusuh bila terus dibawa dan dipindahkan kesana kemari. Pengalihan sistem ujian nasional dari paper based test (PBT) menjadi computer based test (CBT) atau yang mudah disebut ujian online, juga menjadi bukti dan semakin meyakinkan peradaban bahwa kertas sudah tak lagi berguna untuk peradaban.

Media berita sudah semakin maju dan telah berkolaborasi dengan kemajuan teknologi. Bahkan bukan hanya wartawan atau jurnalis handal yang berhak untuk membuat berita, selain dilindungi hak untuk bebas menyatakan pendapat, kini kemajuan teknologi berupa kelahiran media sosial yang hadir pada dunia kedua yang sering disebut “maya” telah menjadi ladang bagi masyarakat untuk membuat berita versi mereka sendiri, dan dengan bangga memberi gelar pada dirinya sebagai citizen journalism. 

Yang kulminasinya masyarakat seakan ingin mendeklarasikan, “aku sudah tak butuh kertas untuk memberitakan ini dan itu”. Koran dan majalah yang tak lain berbahan kertas akhirnya disulap menjadi aplikasi antarmuka yang menyajikan berita lebih praktis dan gratis. Belum lagi kelemahan berita pada kertas yang berjalan lambat untuk menjamah telinga dan mata masyarakat, tentu dikalahkan oleh kecepatan berita berbasis aplikasi dalam gadget.

Tak ketinggalan pula, lahirnya lapak dagang berbasis online yang kini mulai menghancurkan mall-mall besar, dan mulai santer diberitakan banyak mall-mall yang gulung tikar sebab maraknya lapak dagang berbasis online yang biasa dipanggil online shop tersebut. Bagaimana tidak, tanpa harus menyebarkan “kertas” brosur-brosur iklan, cukup memajangkan dagangannya di layar kaca smartphone, disisi lain konsumen juga dimudahkan dengan hanya perlu untuk klik search barang yang menjadi keinginannya dan dengan mudah barang tersebut ditemukan. Yang paling hebat adalah para pelaku online shop yang kegiatannya kini juga disematkan gelar “e” yakni e-commerce tesebut tak perlu susah payah menyebarkan “kertas iklan” yang tak jarang ketika sudah diberikan langsung dibuang begitu saja oleh konsumen. 

Kertas Tetap Unggul

Namun yang abadi di dunia ini adalah perubahan, dan yang dianggap jaya tak akan selalu jaya. Mei 2017 lalu menjadi salah satu sejarah yang memilukan bagi peradaban teknologi dan bagi mereka yang mendewakan teknologi. Kemajuan teknologi yang tak lain adalah seorang ibu yang melahirkan gelar huruf “e” tersebut disalahgunakan dan penyalahgunaannya dianggap halal untuk memenuhi kebutuhan materi. Serangan siber skala besar, virus wannacry menginfeksi 75.000 komputer di 99 negara dan menuntut pembayaran penebusan untuk memulihkan data seperti sedia kala. Jutaan data hilang, kegiatan perkantoran, dan pelayanan publik terlumpuhkan.

Melihat dan berkaca dari kejadian tersebut, manusia kini sadar dan seakan menelan ludah sendiri setelah meremehkan kertas. Kejadian tersebut membuktikan bahwa mereka tetap butuh data yang bentuknya kongkrit dan tertulis, membuktikan bahwa kertas tetap berperan penting dalam peradaban. Banyak akhirnya instansi-instansi yang menggunakan teknologi untuk menyimpan data, kini kembali menggunakan sistem manual tertulis dalam kertas sebagai cadangan data mereka.

Euforia citizen journalism yang santer berperan menyebarluaskan berita di media sosial, kini harus ternodai dengan maraknya berita-berita hoax yang dibuat oleh mereka sendiri. Hal tersebut membuktikan bahwa kertas adalah media yang paling bertanggung jawab.

Melihat dari pengalaman penulis di sebuah kampus negeri di Jawa Timur, ketika itu kampus tersebut memperkenalkan sistem penilaian berbasis online, dengan tujuan supaya lebih praktis dan cepat. Ternyata di tengah euforia terhadap penggunan kemajuan teknologi, munculah oknum mahasiswa nakal yang sengaja meretas sistem guna menaikkan nilai dirinya dan teman-tamannya, yang selanjutnya keberhasilan peretasan nilai tersebut dikembangkan menjadi jual beli nilai retasan. Menindaklanjuti hal tersebut pihak kampus pun membuat kebijakan baru untuk kembali menerbitkan nilai dalam bentuk kongkrit secara tertulis, sebagai legalitas dari nilai yang tertera pada sistem online. Hal ini membuktikan bahwa kertas tidak kehilangan taji, masih bertahan dan akan selalu bertahan dalam peradaban.

Menelisik kembali sejarah penemuan kertas oleh Ts’ai Lun dari China, yang mengantarkannya sebagai 7 dari 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Michael H. Hart. Sebab Ts’ai Lun dengan kertas temuannya peradaban China menjadi peradaban paling maju di dunia kala itu, karena takjubnya dunia akan penemuan Ts’ai Lun tersebut. Berkat kertas yang ditemukannya peradaban modern manusia terbangun hingga hari ini dengan kemajuan yang sangat pesat.

Berkembangnya ilmu pengetahuan tak lain disebabkan oleh adanya kertas. Thomas Stamford Raffles misalnya, seorang pemimpin yang juga pembelajar. Berkat catatan-catatan yang berisi penemuan-penemuan dalam eksplorasinya di pulau jawa yang dituliskan pada kertas memberikan sumbangsih pada kemajuan ilmu botani. Dan banyak lagi ilmuan yang mengubah peradaban dunia dengan tulisannya dalam kertas, termasuk cendekiawan muslim Al Khawarizmi penemu aljabar dan angka nol yang tak lain juga terbantu dengan hadirnya kertas.

Kekuatan kertas pada masa pergerakan kemerdekaan, pejuang bangsa yang terpelajar menyuarakan ide-ide kemerdekaan diatas kertas, membuktikan bahwa kertas merupakan simbol dari perubahan dan kemajuan peradaban.

Bagaimana dengan peran kertas dalam peradaban modern saat ini? 

Tentunya peran kertas begitu penting. Penemuan kertas adalah salah satu penemuan yang mengubah peradaban dunia ke era yang modern, euforia akan kemajuan teknologi harus segera disadarkan. Seperti yang penulis beberkan diatas, tak selamanya kemajuan teknologi yang melahirkan kecerdasan buatan selalu mengalahkan segalanya, termasuk kertas. Justru kedigdayaan teknologi semakin memperlihatkan kelemahannya, seperti potensi peretasan terhadap data yang menimbulkan keraguan terhadap kredibilitas data yang ada pada sistem hasil kemajuan teknologi. Termasuk berita-berita hoax yang tersebar oleh oknum tak bertanggungjawab.

Maka disini peran kertas dalam peradaban modern semakin nyata. Hanya kertas yang memiliki tanggungjawab terhadap peradaban. Kertas adalah bentuk kongkret nyata yang memiliki kredibilitas tinggi. Masih digunakannya buku tamu dalam bentuk tertulis diatas kertas oleh hotel-hotel, disamping data elektronik adalah salah satu bentuk pembuktian bahwa kertas tetap dapat menjaga eksistensinya dalam peradaban modern.

Apakah hanya sebatas kemampuan menjaga kredibilitas dan tanggungjawab data yang dimiliki oleh kertas?

Tidak.

Kertas juga memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan peradaban manusia. Inovasi-inovasi terhadap kertas yang semakin maju seiring kemajuan teknologi, seperti penggunaan kertas sebagai pembungkus, kardus yang berbahan baku kertas tidak akan mungkin tergantikan, karena pembungkus dengan kardus lebih efisien dan efektif daripada sistem packing menggunakan alumunium maupun kayu. Dimana kertas juga mengenyampingkan penggunaan plastik yang tak lagi ramah lingkungan. Dan perlu diingat bahwa bahan pembungkus dari dus box gadget-gadget yang merupakan anak dari kemajuan teknologi tak lain adalah berbahan baku kertas.

Penggunaan stiker yang tak lain merupakan hasil inovasi yang dikembangkan dari kertas, masih terus digunakan. Bahkan stiker digunakan untuk melabeli benda ciptaan kemajuan teknologi yang semula didewakan dan dianggap sudah jauh mengalahkan kertas.

Selain itu ada kertas tisu yang digunakan sebagai pembersih, sebagai inovasi untuk menekan penggunaan air, yang kini dikembangkan menjadi tisu basah. Kertas dinding atau biasa disebut wallpaper yang dalam peradaban modern mempercantik dan menambah nilai estetika suatu bangunan, kotak makanan, hiasan, origami dan masih banyak lagi. Bahkan uang sekalipun yang berbahan baku kertas, walau sering digalakkannya gerakan cashless, uang kertas akan tetap terus eksis, hal ini semakin membuktikan bahwa eksistensi kertas tidak akan pernah pudar. Kertas ada dimana-mana, kita sampai tidak menyadari bahwa semua itu terbuat dari bahan yang sama, yaitu kertas, kebutuhan akan kertas tak dapat dihindari. Kesemuanya itu menjadi bukti bahwa kertas memiliki peran besar dalam peradaban modern.

Bahkan realita perhari ini, dilihat dari sisi ekonomi dan bisnis masih banyak wirausaha di bidang percetakan ataupun print, menjadi bukti masih berlangsungnya eksistensi kertas. Bahkan teknologi semakin dikembangkan bukan untuk menghilangkan eksistensi kertas, namun justru dalam hal ini teknologi percetakan dan print semakin dikembangkan untuk bagaimana menghasilkan cetakan terbaik di atas kertas.

Yang perlu diperhatikan disini adalah tidak membuat kesenjangan antara kertas dan kemajuan teknologi, bahwa keduanya harus saling bersinergi. Contoh sederhana, walau kini tren e-ticket yang lahir dari rahim kemajuan teknologi yang dianggap mengenyampingkan tiket dalam bentuk kertas, ternyata tidak sepenuhnya demikian. Pada kenyataannya e-ticket harus kembali dicetak dalam bentuk kongkrit berupa kertas untuk digunakan sebagai bukti legalitas suatu tiket. Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya gap antara kertas dan kemajuan teknologi.

Paper Airplane Berbasis Teknologi


Contoh lain adalah lahirnya kolaborasi teknologi dengan kertas berupa mainan pesawat origami. Dimana teknologi startup yang bernama power up toys  berupa mesin dorong ringan berpadu untuk mendorong terbang pesawat kertas, yang juga dilengkapi dengan kendali bluetooth ataupun sinyal wifi, menghasilkan inovasi baru. Lahirlah peranakan antara kertas dan kemajuan teknologi berupa  drone berbahan baku kertas. Hal ini membuktikan kuatnya sinergi antara kertas dan teknologi. Semakin tidak membuat ragu bahwa akan lahir lebih banyak lagi inovasi-inovasi dalam bentuk sinergi antara kertas dan kemajuan teknologi.

Guna bertahan dalam peradaban modern kertas perlu bersinergi dengan kemajuan teknologi. Selain kertas juga digunakan sebagai alat tanggung jawab dan kredibilitas dari hal-hal yang diambil alih oleh kemajuan teknologi seperti data, kertas juga perlu mengedepankan prinsip-prinsip berkelanjutan dan ramah lingkungan demi kenyamanan dalam hidup.

Kesimpulannya tidak ada yang saling dikalahkan antara kertas dan kemajuan teknologi, realitas perhari ini membuktikan bahwa peradaban modern tetap membutuhkan kertas. Demi terciptanya kenyamanan dan keseimbangan serta terkontrolnya kehidupan, maka sinergi antara kertas dan kemajuan teknologi jelas dibutuhkan.
Inilah cerita tentang kertas.
Think and Feel it!

0 komentar:

loading...