TULISAN INI BERHASIL MENCETAK REKOR  SHARE (1300+ kali) DI  HIPWEE.COM Realita per hari ini mata saya, eh bukan mata saya doa...

5 Alasan Mengapa Film Dilan Cenderung Terlihat Dipaksakan




TULISAN INI BERHASIL MENCETAK REKOR  SHARE (1300+ kali) DI HIPWEE.COM


Realita per hari ini mata saya, eh bukan mata saya doang sih, tapi mata kita, telinga kita, disibukkan dengan melihat dan mendengan frasa “Dilan”, “Milea”, dan juga beberapa kalimat seperti “Jangan rindu kamu gak bakal kuat, biar aku saja”, meme film Dilan pun bermunculan. Iya betul, sejak muncul rumor Novel “Dilan: dia adalah Dilanku Tahun 1990” karya Pidi Baiq akan difilmkan, hingga 25 Januari kemarin resmi tayang di bioskop Indonesia, membuat setiap kita melihat beranda instagram, instastories, twitter, facebook, isinya Dilaaaaan mulu, Mileaaaaa mulu. Akhirnya karena penasaran saya pun memutuskan untuk menonton langsung Film Dilan tersebut. Alhasil, ternyata menurut penilaian saya, Film Dilan cenderung terlihat dipaksakan dan beberapa tidak sesuai dengan imajinasi yang ditimbulkan saat membaca versi novelnya.

Berikut 5 alasan mengapa film Dilan cenderung terlihat dipaksakan versi saya yang dikolaborasikan dengan pendapat penulis keren ‘Bung’ Fiersa Besari beserta warganet lainnya:


1. Pemeran Dilan



Awalnya banyak warganet yang kaget, terkejoeeettt kok bisa sih yang memerankan si Dilan dedek itu? banyak ketakutan-ketakutan yang muncul, takut imajinasi yang terlukis terhadap sosok Dilan saat membaca versi novelnya harus hancur saat di perankan si dedek. Kok maksa banget ya, Kenapa sih nggak bang itu aja? (Baca: Reza Rahardian), eh jangan deh masa bang ituuuuu mulu yang muncul di bioskop wkwkwk.

Namun ternyata, di luar dugaan, Iqbal Ramadhan mematahkan keraguan mayoritas warganet, termasuk saya sendiri. Iqbal ternyata sangat pas memerankan Dilan. Mungkin karena film ini ditangani langsung oleh penulis aslinya yakni Pidi Baiq alias Surayah.


2. Product Placement yang Tidak Sesuai dengan Zamannya



Diceritakan bahwa adegan tersebut terjadi pada tahun 1990, namun masih ada bahkan banyak hal-hal milenial yang ikut ke dalam frame, product placement yang tak sesuai dengan zamannya, seperti kursi sofa yang terlihat sudah modern, kompor gas, gas melon, botol saus kecap di tukang bakso yang modern, padahal tahun segitu pakenya botol kaca.

Dan betapa hampir tidak ada benda-benda era 90-an yang mencolok kecuali mobil, motor dan telepon koin. Padahal bisa saja ditambahkan kaset dan TV cembung. Bayangkan tahun segitu, rambut cewek-cewek sudah pada badai, udah kenal sama curly, udah pake blush on ke sekolah, pake mascara, keren beuttt. Bahkan si Rati dan Rani yang udah pake catokan, andaikan di make up agak polos udah persis tahun 90-an kali ya.

Ada lagi, terlihat plat mobil tertulis 2022, sepele sih, tapi ini fatal sebenernya, penampakan gorengan dan settingnya tidak sesuai dengan zamannya.


3. Tampilan Film yang Kurang Pas



Memang sih cerita di film ini tersampaikan dengan baik, tapi ada yang terasa janggal, yakni tampilan visualisasi film. Color grading terlihat belang, green screen yang kentara, green screen saat ke bulan, adegan bunda dalam mobil, berasa nonton film naga-nagaan ala-ala sinetron khas Indonesia wkwkwk dan perpindahan scenes yang cenderung terlihat kasar. ya... walaupun terlihat mengganjal, namun ini masalah teknis saja. 



4. Hilangnya Kekuatan Karakter Penting Yang Terdapat Pada Versi Buku



Walaupun beberapa sesuatu dari buku terkesan dipaksakan untuk ditampilkan dalam film ini, namun ternyata ada beberapa hal yang juga hilang, dan tidak ditampilkan ke dalam film. Seperti karakter pendukung seperti Wati, Piyan, Anhar dikenal sangat kuat dalam versi bukunya, namun dalam versi film karakter di sekitar Dilan dan Milea kurang begitu nyata, sehingga karakter pendukung yang sebenarnya mewarnai novel Dilan seperti kurang terasa kehadirannya.



5. Menjadikan Dilan Sebagai Sosok Idola Baru



Kalau sebelumnya ada Rangga di Ada Apa Dengan Cinta, Nathan di Dear Nathan, terakhir ada Fahri di Ayat-ayat Cinta, dan kali ini muncul lagi idola musiman pemudi bahkan pemuda Indonesia yakni Dilan. Memang sih gombalan-gombalan Dilan kepada Milea sangat terlihat begitu manis, bahkan saya sebagai cowok terlihat senyum-senyum sendiri melihatnya wkwkwk. Dilan seperti mengajak nostalgia kembali kepada masa cinta monyet zaman SMA.

Anak SMA di setiap zaman memang memiliki idola masing-masing, seperti mengidolakan Dora, Goku, Naruto wkwkwk. Tapi begitu lucu jika generasi sekarang ingin menjadi Dilan, mau diapakan? ah memang begitu adanya.

Oke itu saja beberapa pendapat saya yang dikolaborasikan dengan pendapat penulis keren 'Bung' Fiersa Besari beserta warganet lainnya. Selamat menikmati sajian feed beranda instagram, instastories kaum alay, tweet-tweet imut, status facebook lucu yang berisikan tentang Dilan selama beberapa minggu ke depan. Dan tentunya kalimat "Jangan rindu. Ini berat. Kau tak akan kuat. Biar aku saja." wkwkwk.
Think and Feel it!

NEXT⏩

0 komentar:

TULISAN INI BERHASIL MENDAPAT LABEL "PILIHAN" (HIGHLIGHT) DI  KOMPASIANA.COM Konsep paperless telah menjamah segala lin...

Sinergi antara Kertas dan Kemajuan Teknologi dalam Peradaban Modern


TULISAN INI BERHASIL MENDAPAT LABEL "PILIHAN" (HIGHLIGHT) DI KOMPASIANA.COM


Konsep paperless telah menjamah segala lini kehidupan, gerakan nasional non tunai adalah salah satu contohnya. Mengurangi penggunaan lembar Rupiah, cashless adalah sebuah keinginan untuk membuktikan bahwa kertas sudah waktunya untuk dikesampingkan. Konsep paperless tersebut mulai digalakkan, ialah sebuah konsep yang diharapkan akan sangat efektif untuk menghemat kertas, tak lain guna mengurangi penebangan hutan.

Pergeseran pemesanan tiket secara manual kepada tren booking online yang memunculkan sebutan e-ticket melahirkan persepsi baru pada masyarakat bahwa kertas sudah menjadi barang antik nan kuno yang harus dimuseumkan dan dipensiunkan dari peradaban. Penambahan huruf “e” sebagai alat bantu di setiap lini kehidupan, semacam e-book, e-mail, tentunya e-ticket, membuat kertas mulai semakin tak dikenal.

Bahkan sering terngiang dalam dunia pendidikan, keinginan mahasiswa untuk tidak lagi menggunakan kertas sebagai media penulisan skripsi semakin gencar disuarakan. Kehadiran teknologi yang menghiasi peradaban modern membuat manusia lebih bahagia untuk bercinta dan bermesraan bersama gadget-gadget canggih, yang dirasa dapat menghimpun data lebih banyak dengan cara yang praktis, daripada harus membawa berlembar-lembar kertas yang akan lusuh bila terus dibawa dan dipindahkan kesana kemari. Pengalihan sistem ujian nasional dari paper based test (PBT) menjadi computer based test (CBT) atau yang mudah disebut ujian online, juga menjadi bukti dan semakin meyakinkan peradaban bahwa kertas sudah tak lagi berguna untuk peradaban.

Media berita sudah semakin maju dan telah berkolaborasi dengan kemajuan teknologi. Bahkan bukan hanya wartawan atau jurnalis handal yang berhak untuk membuat berita, selain dilindungi hak untuk bebas menyatakan pendapat, kini kemajuan teknologi berupa kelahiran media sosial yang hadir pada dunia kedua yang sering disebut “maya” telah menjadi ladang bagi masyarakat untuk membuat berita versi mereka sendiri, dan dengan bangga memberi gelar pada dirinya sebagai citizen journalism. 

Yang kulminasinya masyarakat seakan ingin mendeklarasikan, “aku sudah tak butuh kertas untuk memberitakan ini dan itu”. Koran dan majalah yang tak lain berbahan kertas akhirnya disulap menjadi aplikasi antarmuka yang menyajikan berita lebih praktis dan gratis. Belum lagi kelemahan berita pada kertas yang berjalan lambat untuk menjamah telinga dan mata masyarakat, tentu dikalahkan oleh kecepatan berita berbasis aplikasi dalam gadget.

Tak ketinggalan pula, lahirnya lapak dagang berbasis online yang kini mulai menghancurkan mall-mall besar, dan mulai santer diberitakan banyak mall-mall yang gulung tikar sebab maraknya lapak dagang berbasis online yang biasa dipanggil online shop tersebut. Bagaimana tidak, tanpa harus menyebarkan “kertas” brosur-brosur iklan, cukup memajangkan dagangannya di layar kaca smartphone, disisi lain konsumen juga dimudahkan dengan hanya perlu untuk klik search barang yang menjadi keinginannya dan dengan mudah barang tersebut ditemukan. Yang paling hebat adalah para pelaku online shop yang kegiatannya kini juga disematkan gelar “e” yakni e-commerce tesebut tak perlu susah payah menyebarkan “kertas iklan” yang tak jarang ketika sudah diberikan langsung dibuang begitu saja oleh konsumen. 

Kertas Tetap Unggul

Namun yang abadi di dunia ini adalah perubahan, dan yang dianggap jaya tak akan selalu jaya. Mei 2017 lalu menjadi salah satu sejarah yang memilukan bagi peradaban teknologi dan bagi mereka yang mendewakan teknologi. Kemajuan teknologi yang tak lain adalah seorang ibu yang melahirkan gelar huruf “e” tersebut disalahgunakan dan penyalahgunaannya dianggap halal untuk memenuhi kebutuhan materi. Serangan siber skala besar, virus wannacry menginfeksi 75.000 komputer di 99 negara dan menuntut pembayaran penebusan untuk memulihkan data seperti sedia kala. Jutaan data hilang, kegiatan perkantoran, dan pelayanan publik terlumpuhkan.

Melihat dan berkaca dari kejadian tersebut, manusia kini sadar dan seakan menelan ludah sendiri setelah meremehkan kertas. Kejadian tersebut membuktikan bahwa mereka tetap butuh data yang bentuknya kongkrit dan tertulis, membuktikan bahwa kertas tetap berperan penting dalam peradaban. Banyak akhirnya instansi-instansi yang menggunakan teknologi untuk menyimpan data, kini kembali menggunakan sistem manual tertulis dalam kertas sebagai cadangan data mereka.

Euforia citizen journalism yang santer berperan menyebarluaskan berita di media sosial, kini harus ternodai dengan maraknya berita-berita hoax yang dibuat oleh mereka sendiri. Hal tersebut membuktikan bahwa kertas adalah media yang paling bertanggung jawab.

Melihat dari pengalaman penulis di sebuah kampus negeri di Jawa Timur, ketika itu kampus tersebut memperkenalkan sistem penilaian berbasis online, dengan tujuan supaya lebih praktis dan cepat. Ternyata di tengah euforia terhadap penggunan kemajuan teknologi, munculah oknum mahasiswa nakal yang sengaja meretas sistem guna menaikkan nilai dirinya dan teman-tamannya, yang selanjutnya keberhasilan peretasan nilai tersebut dikembangkan menjadi jual beli nilai retasan. Menindaklanjuti hal tersebut pihak kampus pun membuat kebijakan baru untuk kembali menerbitkan nilai dalam bentuk kongkrit secara tertulis, sebagai legalitas dari nilai yang tertera pada sistem online. Hal ini membuktikan bahwa kertas tidak kehilangan taji, masih bertahan dan akan selalu bertahan dalam peradaban.

Menelisik kembali sejarah penemuan kertas oleh Ts’ai Lun dari China, yang mengantarkannya sebagai 7 dari 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Michael H. Hart. Sebab Ts’ai Lun dengan kertas temuannya peradaban China menjadi peradaban paling maju di dunia kala itu, karena takjubnya dunia akan penemuan Ts’ai Lun tersebut. Berkat kertas yang ditemukannya peradaban modern manusia terbangun hingga hari ini dengan kemajuan yang sangat pesat.

Berkembangnya ilmu pengetahuan tak lain disebabkan oleh adanya kertas. Thomas Stamford Raffles misalnya, seorang pemimpin yang juga pembelajar. Berkat catatan-catatan yang berisi penemuan-penemuan dalam eksplorasinya di pulau jawa yang dituliskan pada kertas memberikan sumbangsih pada kemajuan ilmu botani. Dan banyak lagi ilmuan yang mengubah peradaban dunia dengan tulisannya dalam kertas, termasuk cendekiawan muslim Al Khawarizmi penemu aljabar dan angka nol yang tak lain juga terbantu dengan hadirnya kertas.

Kekuatan kertas pada masa pergerakan kemerdekaan, pejuang bangsa yang terpelajar menyuarakan ide-ide kemerdekaan diatas kertas, membuktikan bahwa kertas merupakan simbol dari perubahan dan kemajuan peradaban.

Bagaimana dengan peran kertas dalam peradaban modern saat ini? 

Tentunya peran kertas begitu penting. Penemuan kertas adalah salah satu penemuan yang mengubah peradaban dunia ke era yang modern, euforia akan kemajuan teknologi harus segera disadarkan. Seperti yang penulis beberkan diatas, tak selamanya kemajuan teknologi yang melahirkan kecerdasan buatan selalu mengalahkan segalanya, termasuk kertas. Justru kedigdayaan teknologi semakin memperlihatkan kelemahannya, seperti potensi peretasan terhadap data yang menimbulkan keraguan terhadap kredibilitas data yang ada pada sistem hasil kemajuan teknologi. Termasuk berita-berita hoax yang tersebar oleh oknum tak bertanggungjawab.

Maka disini peran kertas dalam peradaban modern semakin nyata. Hanya kertas yang memiliki tanggungjawab terhadap peradaban. Kertas adalah bentuk kongkret nyata yang memiliki kredibilitas tinggi. Masih digunakannya buku tamu dalam bentuk tertulis diatas kertas oleh hotel-hotel, disamping data elektronik adalah salah satu bentuk pembuktian bahwa kertas tetap dapat menjaga eksistensinya dalam peradaban modern.

Apakah hanya sebatas kemampuan menjaga kredibilitas dan tanggungjawab data yang dimiliki oleh kertas?

Tidak.

Kertas juga memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan peradaban manusia. Inovasi-inovasi terhadap kertas yang semakin maju seiring kemajuan teknologi, seperti penggunaan kertas sebagai pembungkus, kardus yang berbahan baku kertas tidak akan mungkin tergantikan, karena pembungkus dengan kardus lebih efisien dan efektif daripada sistem packing menggunakan alumunium maupun kayu. Dimana kertas juga mengenyampingkan penggunaan plastik yang tak lagi ramah lingkungan. Dan perlu diingat bahwa bahan pembungkus dari dus box gadget-gadget yang merupakan anak dari kemajuan teknologi tak lain adalah berbahan baku kertas.

Penggunaan stiker yang tak lain merupakan hasil inovasi yang dikembangkan dari kertas, masih terus digunakan. Bahkan stiker digunakan untuk melabeli benda ciptaan kemajuan teknologi yang semula didewakan dan dianggap sudah jauh mengalahkan kertas.

Selain itu ada kertas tisu yang digunakan sebagai pembersih, sebagai inovasi untuk menekan penggunaan air, yang kini dikembangkan menjadi tisu basah. Kertas dinding atau biasa disebut wallpaper yang dalam peradaban modern mempercantik dan menambah nilai estetika suatu bangunan, kotak makanan, hiasan, origami dan masih banyak lagi. Bahkan uang sekalipun yang berbahan baku kertas, walau sering digalakkannya gerakan cashless, uang kertas akan tetap terus eksis, hal ini semakin membuktikan bahwa eksistensi kertas tidak akan pernah pudar. Kertas ada dimana-mana, kita sampai tidak menyadari bahwa semua itu terbuat dari bahan yang sama, yaitu kertas, kebutuhan akan kertas tak dapat dihindari. Kesemuanya itu menjadi bukti bahwa kertas memiliki peran besar dalam peradaban modern.

Bahkan realita perhari ini, dilihat dari sisi ekonomi dan bisnis masih banyak wirausaha di bidang percetakan ataupun print, menjadi bukti masih berlangsungnya eksistensi kertas. Bahkan teknologi semakin dikembangkan bukan untuk menghilangkan eksistensi kertas, namun justru dalam hal ini teknologi percetakan dan print semakin dikembangkan untuk bagaimana menghasilkan cetakan terbaik di atas kertas.

Yang perlu diperhatikan disini adalah tidak membuat kesenjangan antara kertas dan kemajuan teknologi, bahwa keduanya harus saling bersinergi. Contoh sederhana, walau kini tren e-ticket yang lahir dari rahim kemajuan teknologi yang dianggap mengenyampingkan tiket dalam bentuk kertas, ternyata tidak sepenuhnya demikian. Pada kenyataannya e-ticket harus kembali dicetak dalam bentuk kongkrit berupa kertas untuk digunakan sebagai bukti legalitas suatu tiket. Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya gap antara kertas dan kemajuan teknologi.

Paper Airplane Berbasis Teknologi


Contoh lain adalah lahirnya kolaborasi teknologi dengan kertas berupa mainan pesawat origami. Dimana teknologi startup yang bernama power up toys  berupa mesin dorong ringan berpadu untuk mendorong terbang pesawat kertas, yang juga dilengkapi dengan kendali bluetooth ataupun sinyal wifi, menghasilkan inovasi baru. Lahirlah peranakan antara kertas dan kemajuan teknologi berupa  drone berbahan baku kertas. Hal ini membuktikan kuatnya sinergi antara kertas dan teknologi. Semakin tidak membuat ragu bahwa akan lahir lebih banyak lagi inovasi-inovasi dalam bentuk sinergi antara kertas dan kemajuan teknologi.

Guna bertahan dalam peradaban modern kertas perlu bersinergi dengan kemajuan teknologi. Selain kertas juga digunakan sebagai alat tanggung jawab dan kredibilitas dari hal-hal yang diambil alih oleh kemajuan teknologi seperti data, kertas juga perlu mengedepankan prinsip-prinsip berkelanjutan dan ramah lingkungan demi kenyamanan dalam hidup.

Kesimpulannya tidak ada yang saling dikalahkan antara kertas dan kemajuan teknologi, realitas perhari ini membuktikan bahwa peradaban modern tetap membutuhkan kertas. Demi terciptanya kenyamanan dan keseimbangan serta terkontrolnya kehidupan, maka sinergi antara kertas dan kemajuan teknologi jelas dibutuhkan.
Inilah cerita tentang kertas.
Think and Feel it!

0 komentar:

TULISAN INI BERHASIL MENDAPAT  LABEL "PILIHAN" (HIGHLIGHT) DI  KOMPASIANA.COM Berita yang masih hangat, baru diangkat d...

Ketua DPR Zaman Now Haruslah Setia



TULISAN INI BERHASIL MENDAPAT  LABEL "PILIHAN" (HIGHLIGHT) DI KOMPASIANA.COM


Berita yang masih hangat, baru diangkat dari penggorengan politik negeri tercinta Indonesia tak lain adalah pengangkatan ketua DPR RI baru dari ketua DPR yang lawas Setya Novanto kepada Bambang Soesatyo yang pelantikannya berlangsung sore tadi. Kasus yang menjerat Setya Novanto membuat beliau harus benar-benar kehilangan jabatannya sebagai ketua DPR yang sebelumnya berhasil beliau pertahankan dari kehilangan.

Pergantian ketua DPR sepanjang masa jabatan Presiden Joko Widodo adalah pergantian terbanyak sepanjang sejarah Dewan Perwakilan Rakyat, bayangkan selama kurun waktu 2009 hingga 2018 tercatat lima kali pergantian ketua DPR. Dari pergantian pertama dari Setya Novanto kepada Fadli Zon sebagai pelaksana tugas, karena kasus Papa minta saham. Kemudian Fadli Zon harus juga diganti oleh Ade Komarudin, akhirnya karena kesaktian Setya Novanto tidak terbukti minta saham, maka beliau berhak kembali merasakan kursi hangat kepemimpinan Dewan Perwakilan Rakyat.

Ternyata kasus e-ktp ingin menguji kesaktian Setya Novanto, hasilnya pada sidang pra peradilan Setya Novanto kembali menunjukkan kesaktiannya, walau akhirnya kini Setya Novanto harus kehilangan jurus saktinya. Dan kursi kepemimpinan DPR harus diserahkan kepada pelaksana tugas Fadli Zon yang sore tadi kepemimpinan diserahkan kepada Bambang Soesatyo sebagai pengganti resmi Setya Novanto.

Ada hal yang unik

Terlepas dari pergantian ketua DPR yang mencapai rekor hingga 5 kali selama 1 periode 5 tahun, ada satu hal yang unik dari pergantian ketua DPR kali ini, yakni ketua DPR sebelumnya dengan ketua DPR yang sore tadi dilantik memiliki nama yang sama yakni “Setia”. Walau seringnya pergantian ketua DPR adalah bentuk ketidak"setia"an ketua DPR wkwkwk.

Walau William Shakespeare mengatakan “Apalah arti sebuah nama, Andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi”. Namun dalam budaya kita nama adalah hal yang penting, banyak orang mengganti namanya karena konon katanya namanya keberatan, sering terkena penyakit, atau karena saran mbah dukun.

Setya Novanto

Yang menjadi pertanyaan, apakah kesamaan nama SETYA Novanto dan Bambang SoeSATYO yang sama-sama memiliki frasa “Setia” adalah kebetulan, atau partai Golkar sebagai pengusung Setya Novanto sekaligus yang berhak menunjuk Bambang Soesatyo sebagai penggantinya memiliki kriteria khusus yakni harus memiliki frasa “Setia” pada namanya, atau mungkin ketua DPR zaman now haruslah memiliki frasa “Setia” pada susunan namanya?

Setelah ditelisik apa arti “Setia” itu sendiri, ternyata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti setia adalah berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya). Walau frasa “Setia” yang ada pada Setya Novanto dan Bambang Soesatyo berasal dari bahasa Jawa, namun arti Setya maupun Setyo sama-sama memiliki arti yang sama dan tidak berbeda dari penafsiran arti setia menurut KBBI.

Jika memang itu syarat menjadi ketua DPR yakni harus memiliki frasa “Setia” pada susunan namanya, maka beruntunglah anda yang memiliki frasa “Setia” pada susunan nama anda karena anda memiliki peluang besar untuk menjadi ketua DPR berikutnya. Dan bila anda ingin menjadi ketua DPR di zaman now ini sedangkan di dalam nama anda tidak terdapat frasa “Setia”, maka silahkan menuju Dinas Kependudukan untuk mengganti nama anda, atau sekedar menambahkan frasa “Setia” di dalam susunan nama anda. Wkwkwkwkwk

Bambang Soesatyo

Terlepas dari gurauan saya diatas yang garing banget. Rakyat Indonesia berharap besar kepada ketua DPR yang baru, bapak Bambang Soesatyo semoga benar-benar SETIA dalam janji yang beliau ucapkan tadi sore, setia dalam membela hak rakyat, sebagai penyambung lidah rakyat, dan semoga kasus korupsi papa sakti tidak terulang lagi.

Oh iya, bagi anda yang benar- benar disesatkan oleh tulisan ini, dan benar-benar ingin mengganti namanya atau menambahkan frasa “Setia” dalam sususan namanya, jangan lupa mengadakan kenduri atau selametan nama, agar selamat. Hehehe.

Tulisan ini hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berselera humor tinggi, Sekian, Terimakasih. (MMT)
Think and Feel it! 

NEXT⏩



0 komentar:

TULISAN INI BERHASIL MENDAPAT  LABEL "PILIHAN" (HIGHLIGHT) DI  KOMPASIANA.COM Seringkali kita mendengar istilah “Indon...

Kepedulian Sosial untuk Perbaikan Moral Menuju Indonesia Emas 2045



TULISAN INI BERHASIL MENDAPAT  LABEL "PILIHAN" (HIGHLIGHT) DI KOMPASIANA.COM


Seringkali kita mendengar istilah “Indonesia Emas 2045”, sebenarnya ada apa di Indonesia pada tahun 2045? Mengapa Indonesia Emas? Dan mengapa harus 2045? 

Di tahun 2045 tersebut Indonesia merayakan peringatan 100 tahun kemerdekaannya, kemerdekaan yang diperjuangkan lebih dari 100 tahun, diperjuangkan lebih dari 100 ribu pahlawan, sebuah kemerdekaan yang diraih dengan pengorbanan jiwa dan raga.

Menurut dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun oleh Menko Perekonomian, dicanangkan bahwa sejak 2025 Indonesia akan menjadi negara yang maju, adil, dan makmur. Hingga pada puncaknya Indonesia akan meraih kegemilangan, masa keemasan pada tahun 2045, yakni pada perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

Pada 100 tahun kemerdekaan tersebut, disebutkan juga dalam perumusan MP3EI, Indonesia akan mendapatkan “bonus demografi”, dimana piramida penduduk Indonesia menjadi sangat ideal dengan peningkatan jumlah penduduk usia produktif yang signifikan. Bonus demografi tersebut harus dioptimalkan dengan baik, jangan sampai bonus demografi tersebut terbuang sia-sia, atau bahkan justru menjadi ancaman bagi Indonesia sendiri.

Mengapa bisa menjadi ancaman? Karena bila berbicara tentang usia produktif, maka yang terbesit di pikiran kita adalah mereka yang berumur diatas 15 tahun dan dibawah 65 tahun. Dapat disimpulkan usia produktif adalah mereka yang disebut dengan pemuda. Maka akan menjadi sebuah ancaman disaat para pemuda yang tidak terbina dan dibina, dampaknya pemuda bisa menjadi spesies yang berbahaya di negeri ini. Bayangkan anak muda menjadi spesies yang berbahaya, mereka bisa berbuat apa saja sekehendak mereka.

Yang menjadi pertanyaan, generasi seperti apa yang menjadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa pada peringatan 100 tahun kemerdekaan tersebut, yang konon katanya Indonesia menggapai kegemilangan Indonesia emas 2045. Jika kita mengunakan hitung-hitungan sederhana, maka dapat disimpulkan bahwa pemuda yang dimaksud dan pemegang estafet kepemimpinan bangsa pada peringatan 100 tahun kemerdekaan tersebut adalah mereka yang sekarang menyandang gelar mahasiswa, yang 28 tahun lagi akan mengisi ramalan kegemilangan Indonesia emas 2045.

Mahasiswa yang selalu dianggap sebagai insan akademis, berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, berpikir rasional, obyektif serta kritis. Mahasiswa yang dianggap memiliki kemampuan teoritis, mampu memformalisasikan apa yang dia ketahui, dan menghadapi suasana sekelilingnya dengan kesadaran.

Mahasiswa, mereka yang sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, mengemban tanggung jawab Tri Dharma, pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Tentunya mahasiswa selalu diharapkan sebagai agent of change, agent of control, dan iron stock. Peran mahasiswa menjadi sangat ideal dengan pernyataan tersebut.

Mahasiswa sebagai man of future, yakni insan yang sadar akan cita-citanya juga cita-cita bangsa, dan tahu serta cerdik bagaimana mencari perjuangan untuk mengggapai cita-cita tersebut. Mahasiswa juga terbentuk sebagai man of inovator, penyuara idea of progress, insan yang berkualitas maksimal.

Namun sayangnya, pernyataan-pernyataan tentang mahasiswa tersebut hanyalah menjadi pengantar dan pidato pembuka pada masa ospek mahasiswa. Yang berarti pada kenyataanya “teori” tersebut seringkali hanya menjadi gagasan tanpa adanya implementasi yang signifikan dan berarti.

Ada satu hal yang tak kalah sering disuarakan, yakni pernyataan bahwa mahasiswa juga menjadi moral force artinya mahasiswa menjadi kekuatan moral sebagai fungsi utama peran mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kehidupannya mahasiswa dituntut untuk memberikan contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat, karena mahasiswa juga dianggap sebagai bagian masyarakat. Perbedaannya mahasiswa adalah mereka yang di”maha”kan yang dianggap sebagai kaum terpelajar. Artinya peran mahasiswa sebagai moral force ini sangat penting, karena moral merupakan suatu hal yang menjadi faktor utama dalam menjadikan negara dan bangsa ini menjadi lebih baik, apalagi moral adalah suatu keharusan untuk dimiliki oleh sang pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa.

Pada kenyataanya mahasiswa justru menjadi ikon dari keterpurukan moral. Mahasiswa seringkali menjadi sasaran empuk narkoba, dan bukan suatu hal yang tabu lagi ketika mahasiswa menjadi simbol dari seks bebas bahkan seringkali beredar sebutan ayam “kampus”, yang kesemuanya itu justru menjadi kontradiksi dari pernyataan mahasiswa sebagai moral force.

Seringkali kita berpikir ada apa dengan mahasiswa, siapa yang salah, mahasiswa itu sendiri, dosen kah, atau justru instansi perguruan tinggi yang tak mampu membimbing mahasiswanya. Kita terus menerawang namun tidak kunjung menemukan apa yang menjadi titik masalah dari keterpurukan moral mahasiswa.

Jikalau mahasiswa yang dibebankan sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini, yang 28 tahun lagi akan mengisi perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia memiliki moral yang seperti ini, lantas gagasan Indonesia emas 2045 hanya akan menjadi sebuah harapan palsu, atau mungkin Indonesia akan menjadi semakin terpuruk dengan sebutan Indonesia “sampah” 2045.

Keterpurukan moral seringkali disebabkan oleh sikap apatis terhadap lingkungan sekitar, kemajuan teknologi justru menjadi bumerang kepada moral mahasiswa, gawai-gawai yang diharapkan memudahkan kehidupan justru menjadi monster terhadap kehidupan mereka sendiri. Kepedulian sosial berupa suka menolong, murah hati, persahabatan, kerjasama, berbagi, gotong royong, dan lain sebagainya harus digadaikan dengan perhatian yang berlebih dan tak terkendali terhadap teknologi yang disalahgunakan. Mereka lebih memilih menatap layar smartphone daripada harus memperhatikan apa yang terjadi di sekitar mereka.

Mengurangnya kepedulian sosial mahasiswa tersebut selalu beriringan dengan keterpurukan moral. Hilanglah nilai moral religius, kerja keras, kemandirian, persahabatan, dan juga nilai moral cinta tanah air. Nilai moral telah terlupakan oleh budaya hidup mahasiswa yang baru yang semakin instan dan menghendaki kesenangan serta pencapaian tujuan yang dilakukan dengan menghalalkan segala cara.

Dampaknya munculah penyakit masyarakat yang diemban mahasiswa, penyimpangan seksual, narkoba, kekerasan, hingga berbagai bentuk penyakit kejiwaan, seperti stres, depresi, kecemasan, dan lain sebagainya adalah bukti dari pengaruh kemajuan peradaban modern yang mengenyampingkan kepedulian sosial. Hal ini kemudian juga berpengaruh terhadap apa yang kita harapkan terhadap masa depan Indonesia, sebuah cita-cita kejayaan di tahun 2045, 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

Lalu apa yang harus dilakukan, agar sebuah visi besar “Menuju Indonesia Emas 2045” tidak kandas oleh sebab krisis “kepantasan” mahasiswa per hari ini bila dilihat bagaimana kondisi moral mereka untuk dijadikan tumpuan harapan pemegang estafet kepemimpinan bangsa di 100 tahun kemerdekaan tersebut. Bayangkan apa jadinya negeri ini bila dipegang oleh manusia-manusia yang tak bermoral dan tak memiliki kepedulian sosial.

Langkah-langkah strategis diperlukan untuk mewujudkan Indoensia emas 2045, perbaikan moral tentunya sangat diperlukan untuk mencetak generasi emas Indonesia yang pantas menjadi peniup lilin ulangtahun seabad kemerdekaan negeri ini.

Perbaikan moral dengan menyuarakan dan mengajak kepada kepedulian sosial adalah jawabannya. Peduli terhadap sekitar merupakan jati diri bangsa Indonesia yang sebenarnya, semangat gotong royong, saling membantu adalah nilai luhur yang sejatinya melekat pada sanubari bangsa. Namun indiviualisme, dan egoisme menghapuskan budaya bangsa tersebut, yang mengarahkan kepada keterpurukan moral.

Kepedulian sosial menghapus sifat materialisme, sifat yang lebih mementingkan untuk memperoleh materi, meletakkan materi sebagai acuan kerja. Padahal asas kerja kita adalah gotong royong dan berdasar pada kekeluargaan.

Kepedulian sosial akan membangun karakter bangsa yang baik, memperbaiki moral, serta solusi terbaik untuk revolusi mental. Mahasiswa seharusnya memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi sesuai amanat Tri Dharma perguruan tinggi yang diembannya yakni salah satunya pengabdian terhadap masyarakat yang artinya mahasiswa diharapkan peduli terhadap sosial. Sejatinya ilmu yang mahasiswa dapatkan bukan untuk kepentingan pribadi saja, aktualisasi kepentingan pribadi harus diganti dengan reaktualisasi terhadap kepedulian sosial.

Disaat kepedulian sosial telah dapat memperbaiki moral bangsa, maka dapat dipastikan tidak ada lagi korupsi, karena mereka peduli terhadap rakyat miskin. Tidak ada lagi teknologi yang disalahgunakan, karena mental mereka telah dibangun oleh sikap peduli terhadap sekitar. Tidak akan ada lagi lingkungan yang rusak, karena kepedulian terhadap lingkungan telah membangun moral mereka. Dan tidak akan ada lagi aset negara yang jatuh kepada tangan asing, karena moral mereka telah dipupuk dengan peduli dan cinta kepada tanah air.

Jika mahasiswa telah memiliki jiwa kepedulian sosial yang teriringi dengan moral yang baik, maka ibu pertiwi tidak akan bersusah hati lagi, tidak ada lagi air mata yang berlinang dari matanya. Mahasiswa sebagai putra dan putri bangsa akan bangkit menggembirakan ibu pertiwi tercinta. Hingga sampailah kita pada masa Indonesia Emas 2045 sebagai milestone kejayaan bangsa, masa dimana Indonesia menjadi negeri yang maju, adil, makmur, damai dan tentram dengan peradaban yang bermoral. Dimana janji-janji kemerdekaan akan terpenuhi berkat peran mahasiswa, pemuda yang tidak hanya sanggup mencabut semeru dari akarnya, namun bahkan sanggup mengguncangkan dunia.
Think and Feel it!

0 komentar:

TULISAN INI BERHASIL MENDAPAT LABEL "ARTIKEL UTAMA (HEADLINE)", DAN LABEL "PILIHAN (HIGHLIGHT)" DI  KOMPASIAN...

Sunset Terseksi di Ujung Timur Pulau Jawa




TULISAN INI BERHASIL MENDAPAT LABEL "ARTIKEL UTAMA (HEADLINE)", DAN LABEL "PILIHAN (HIGHLIGHT)" DI KOMPASIANA.COM, SERTA PREDIKAT TULISAN INSPIRATIF DI QURETA.COM


Banyuwangi yang dahulu sering disebut “The Santet of Java” begitu bobrok dan kumuh, kini seakan disulap menjadi salah satu destinasi wisata yang populer. Terlepas Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya yang juga lahir dan besar di Banyuwangi, kegigihan Pemkab Banyuwangi dalam mengangkat dan membangun pariwisata menghantarkan kabupaten yang berada di ujung timur pulau jawa ini mendapat penghargaan dari PBB berupa UNWTO Awards for Excellence and Inovation in Tourism di ajang 12th UNWTO Awards Forum. Banyuwangi kini menjadi saingan bagi pulau di seberang timurnya yakni Bali, yang sejak dahulu menjadi surganya Indonesia.

Betapa tidak, garis pantai yang panjang menjadi bonus geografis untuk kabupaten terluas se-provinsi Jawa Timur ini, membuat Banyuwangi memiliki belasan pantai eksotis, dari pantai dengan pasir berwarna putih, hitam, merah hingga pantai yang dihiasi pohon cemara, menjadikan pantai Banyuwangi saingan berat untuk pantai-pantai yang ada di Bali.

Pantai Pulau Merah saat siang hari

Namun ada satu pantai yang unik, Pantai Pulau Merah namanya.

Pantai yang memiliki ciri khas dengan adanya 1 bukit yang tingginya kurang lebih 200 meter di hadapan pantai ini dulunya bernama Pantai Wringin Pitu. Nama Pulau Merah diambil dari warna merah pada pasir dan tanah dari pulau yang berada 100 meter di depan bibir pantai sehingga warga sekitar menyebutnya dengan Pantai Pulau Merah.

Pantai ini memiliki pasir yang berwarna putih sepanjang 3 kilometer ini memiliki spot surfing yang bagus dengan ombak setinggi 2 hingga 3 meter dengan panjang 300 meter, sehingga tak jarang banyak ditemukan para peselancar profesional berlatih disini, bahkan sudah seringkali diadakan lomba surfing internasional di Pantai Pulau Merah. 

Pengunjung bisa mandi di laut namun tetap pada batas aman, bermain pasir, snorkling, memancing, hingga mendaki bukit di belakang pantai untuk melihat indahnya Pantai Pulau Merah atau biasa disebut Red Island ini dari ketinggian atau sekedar bersantai dengan tidur di kursi-kursi lengkap dengan payung khas untuk berjemur di bibir pantai. Selain spot keindahan alam pantai yang memiliki mitos bahwa pulau yang di depannya sewaktu-waktu dapat mengeluarkan cahaya merah ini, terdapat satu tempat bernama Pura Tawang Alun yang sering diziarahi umat Hindu Indonesia khususnya umat Hindu dari Bromo dan Bali. Maka sempatkan untuk mengunjungi atau sekedar melihat Pura Tawang Alun ini.

Pura Tawang Alun
Pantai yang dikelola oleh Perhutani Banyuwangi ini berjarak 80 kilometer sekitar 2,5 jam dari pusat kota, tepatnya terletak di Desa Sumberangung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur. Dahulu jalanan menuju Pantai Pulau Merah begitu sulit, rusak dan bergeronjal, seakan-akan mereka yang berniat surfing di Pantai ini harus pemanasan dulu dengan “surfing darat” di jalan menuju pantai, wkwkwk sehingga jarang wisatawan yang mau mengunjunginya. Namun itu dulu, sekarang tenang saja jalan menuju lokasi sudah beraspal sehingga sepanjang perjalananan anda dibuat mudah dan “mulus”.

Jika dahulu orang malas untuk ke Pantai Pulau Merah karena jalan yang rusak, bahkan Pantai Pulau Merah ini hanya digunakan untuk nelayan mencari ikan, kini mereka yang kesana enggan untuk pulang karena sudah terlanjur “kepincut” dengan keindahan Pulau Merah. (“Kepincut” adalah bahasa daerah Banyuwangi, Bahasa Osing yang berarti terpana atau jatuh hati)

Dan satu hal yang paling indah yang selalu dicari-cari wisatawan yakni pengalaman melihat sunset dari Pantai Pulau Merah. Berhadapan langsung dengan samudera Indonesia membuat pemandangan matahari tenggelam di Pantai Pulau Merah terlihat begitu “seksi”.  

Sunset Pantai Pulau Merah (Doc. Pribadi)

31 Desember kemarin adalah hari keberuntungan bagi saya untuk bisa menyaksikan terbenamnya matahari 2017. Tak ada niatan untuk menyaksikan matahari terakhir di 2017 tersebut, hanya karena perjalanan yang jauh dari tempat tinggal saya ke Pulau Merah membuat saya tepat sekali datang disaat proses terbenamnya matahari. Sunset di Pantai Pulau Merah katanya merupakan spot terbaik untuk melihat matahari terbenam di ujung timur pulau jawa, ternyata benar mata saya begitu dimanjakan dengan pemandangan tersebut.

Awalnya hanya berniat untuk mengunjungi air terjun di daerah Banyuwangi selatan, namun karena belum puas, saya bersama teman- teman spontan gas pol menuju pantai pulau merah. Dari tempat yang tinggi (Air Terjun) langsung menuju dataran rendah (pantai), akhir tahun yang begitu mengesankan.

Setelah tiba di Pantai Pulau merah, dengan diuntungkan oleh cuaca yang lumayan cerah, tak usah diingatkan lagi kami bergegas mengabadikan foto disana, tanpa disadari hasil foto kamera menyadarkan kami bahwa matahari sudah mulai tenggelam, yang juga menyadarkan kami bahwa momen itu merupakan matahari terakhir di tahun 2017, luar biasa.

Sunset Pantai Pulau Merah (Doc. Pribadi)

Jam tangan saya menunjukkan pukul 17.00 matahari mulai berwarna keemasan, sehingga kami berlomba-lomba dan berebutan untuk mengabadikan pemandangan tersebut. Keindahan pemandangan akhir tahun yang hebat tersebut spontan langsung menyentuh hati saya seakan-akan merasakan cinta pada pandangan pertama. Begitu seksi.

Jarum jam beralih kepada pukul 17.30 matahari terlihat seakan-akan menghipnotis kami, warna kemerahan mulai muncul melukiskan seakan langit sedang terbakar. Berkas-berkas cahaya senja memantul secara ciamik di pasir pantai yang basah karena ombak, membuat suasana semakin romantis dengan “keseksian” sunset  Pantai Pulau Merah. Hingga akhirnya berdentang pukul 18.00, langit mulai tampak warna ungu, merah, emas, warna yang saling berdesakan berebut untuk memperlihatkan “kesesksiannya” kepada kami. Sungguh kami terhipnotis untuk berebut foto dan mencari posisi dan gaya terbaik.

Sunset Pantai Pulau Merah (Doc. Pribadi)
Akhirnya matahari 2017 pun resmi pensiun pada pukul 18.20. Sensasi akhir tahun yang begitu mengesankan dan memang benar, pesona Pantai Pulau Merah yang begitu cantik ditambah keseksian  sunset membuat saya ingin mendeklarasikan kepada dunia, inilah sunset terseksi ujung timur pulau jawa.

Tak sampai disitu, setelah puas memelototi “keseksian” sunset Pantai Pulau Merah, mata kami kembali dimanjakan dengan keindahan lampu-lampu kebun buah naga yang berada di kiri kanan jalan dekat Pantai Pulau Merah. Malam itu kami benar-benar mengalami “eyegasm”. Belum lagi indahnya petasan yang mengiringi malam pergantian tahun yang menjadi pelengkapnya.

Kebun Buah Naga saat malam hari

Oh iya, pasti pembaca berkata “ah mungkin itu hanya foto editan”, jujur foto yang saya tampilkan sedikitpun tidak tersentuh aplikasi edit foto, bahkan murni hasil jepretan kamera dengan kolaborasi lensa khusus.

Terkadang banyak orang yang terlalu memiliki ekspektasi lebih ketika hendak mengunjungi spot wisata, sehingga menimbulkan rasa kecewa. Tempat yang dikunjungi ternyata tidak seindah seperti foto-foto dan rangkaian caption dengan kata-kata yang menembus langit yang bertebaran di media sosial. Maka dari itu saya berani memberi garansi untuk “keseksian” sunset Pantai Pulau Merah, silahkan menghubungi email yang berada pada blog ini jika anda merasa kecewa dengan pesona sunset Pantai Pulau Merah. šŸ˜Š

Kunjungi Banyuwangi

Ayo kunjungi Pantai Pulau Merah.
Kunjungi Banyuwangi, anda pasti ingin kembali.

#GramediaHolidaySeason


Think and Feel it!

NEXT⏩





0 komentar:

loading...