Cerpen ini dibuat pada tahun 2013 dengan mengadopsi novel "Air Mata Nayla" karya Muhammad Ardiansha El-Zhemary Saat indahn...

Di Dalam Restu dan Janji

Cerpen ini dibuat pada tahun 2013 dengan mengadopsi novel "Air Mata Nayla" karya Muhammad Ardiansha El-Zhemary
Saat indahnya cahaya rembulan , dan bintang bersinar di gelapnya malam, Kulihat impian bersamamu. Ketika sunyinya malam disambut indahnya senang di pagi ini, Kurasakan indahnya pesonamu.

Tapi aku takut, semua harapan, dan  impian bersamamu, hanyalah sebatas mimpi, dan harapanku tiada tercapai. Andai semua itu nyata, kurasakan betapa sempurnanya hidup ini jika kau ada di sisiku.

Terlihat bayang-bayang atap rumah di dalam mata anak remaja itu, terbangun, tersadarkan, diatas sandaran empuk di ruangan itu. Tampak kebingungan, dan keheranan dalam wajahnya.

“Alhamdulillah, rupanya kamu telah siuman”
“Anda siapa? saya dimana? kenapa saya ada disini?”
“Saya pak Ahmad, kamu sudah 4 hari tidak sadarkan diri, nama kamu siapa nak?”
“Nama? nama saya?”

Pesisir paling selatan pulau Kalimantan, menjadi saksi kecelakaan besar, meledak dan tenggelamnya sebuah kapal. Tiada seorangpun yang selamat selain remaja ini, kedua orangtuanya juga tidak selamat dalam kecelakaan itu. Perjodohan keluarga yang mengantarkannya ke Kalimantan, namun, amnesia menimpanya, hilang seluruh ingatannya, termasuk amanat dari orang tuanya, amanat berupa restu dari seorang kiai di Banyuwangi, untuk menikahi Neng Nadhil putri dari kiai Yusuf, seorang pemuka agama di Kalimantan. 

“Iya, nama, kamu tidak tahu siapa namamu?
“Nama? Siapa nama saya? saya tidak tahu siapa nama saya”
“(Rupanya anak ini hilang ingatan) Baiklah saya panggil kamu Taufiq, Kahlil Taufiq”. Pak Ahmad memilih nama itu, setelah tampak tertulis nama Kahlil Gibran pada kalung di leher remaja itu, mungkin remaja ini sangat menggemari ‘Kahlil Gibran’, Sang legenda maestro cinta.

***

Hari ini indah berteman sinar mentari. berawal dari mimpi tuk menjalani hari
Dengan senyum keindahan bermula meniti esok dalam doa, dan cinta.....

Sebulan lamanya Taufiq menjalani kehidupan barunya bersama laut, pantai, dan karang, bersama seorang saudagar nelayan. Taufiq adalah anak yang rajin, ulet, dan cerdas, belum lagi pribadinya yang religius, karena dulu dia memang hidup di lingkungan pesantren. Kehidupan Taufiq yang penuh kekosongan berubah, Pak Ahmad yang sudah menganggap dia sebagai anak sendiri, untuk menyekolahkannya kembali, di sebuah universitas di sana.

“Taufiq, besok kamu ikut tes di kota, kamu sudah bapak daftarkan untuk melanjutkan sekolahmu”
“Baik pak”
“Di sana nanti kamu pasti akan bertemu yang namanya wanita, setelah kamu melihat wanita kamu akan mengidap rasa, yang namanya cinta, saya hanya menyarankan, kamu jangan mudah jatuh cinta, sebab dibalik rasa cinta pasti ada sakit hati”
“Hahaha, bapak bisa saja”

***

Meskipun ingatan Taufiq hilang, namun naluri kecerdasan Taufiq tidak ikut hanyut terseret ombak dalam kecelakaan itu, terbukti dia masuk dengan peringkat dua teratas, Taufiq berhasil lolos tes.

Namun ada yang membuat terkejut dalam hatinya, melihat nama di peringkat pertama, nama seorang wanita, teringat nasehat dari pak Ahmad.

“Siapa dia? Lia Resty? Seorang wanita?”

Memang benar nasehat pak Ahmad, wanita memang memalingkan, merubah, dan magic, dicarinya siapa pemilik nama itu, hingga ia dapati seorang gadis bermata indah, pemilik nama itu. Sekali lagi, nasehat pak Ahmad memang benar. Memang benar.

“Assalamualaikum, kamu Lia Resty?”
“Iya, ada apa?”
“Selamat ya, kamu peringkat satu, namaku Taufiq”
“Oh, iya, terimakasih, panggil saja aku Lia”

Untuk ketiga kalinya, memang benar, nasehat pak Ahmad memang benar, setelah kamu melihat wanita kamu akan mengidap rasa, yang namanya cinta. Kehidupan Taufiq yang penuh kekosongan sontak berubah, di saat seorang wanita hadir dalam hidupnya, membuat kisah cinta dimulai. Tiada yang tahu bahwa wanita ini bisa menghiasi hidupnya yang baru. Kisah cinta mereka terus berjalan hingga mereka tuntas menyelesaikan sekolah mereka.

Aku memujamu dalam kisahku walau sesaat dulu kau tak pernah ada
Aku mengabdikanmu dalam ceritaku walau dahulu kau hanya semu

Pemilik sepasang mata yang teduh, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Dan terus mengumumkan rasa syukur atas ciptaan indah Sang Maha Kuasa. Taufiq jatuh cinta pertama kali. Hingga sebait janji dengan Tuhannya diucapkan, bahwa Taufiq mencintai Lia.
Aku tak tahu siapa yang ada dalam hatiku, aku tak mau terburu-buru, biarlah Allah yang akan menjadi pembimbing bagi hamba seperti aku dalam menemukan sang bidadari, andai bisa, kamulah bidadari itu, tapi aku tidak tahu, karena semua telah diukir dalam kanvas takdir, lauhulmahfudz.

***

Pagi itu, langit biru yang terang sontak berubah gelap, saat kendaraan yang dikendarai Taufiq menabrak sebuah pohon, saat ia menghindari penyeberang jalan. Kecelakaan yang kedua kalinya ini membuat Hanif kembali tak sadarkan diri selama 4 hari.

“Taufiq, kamu sudah sadar?” tanya Lia dengan khawatir
“Taufiq? Aku bukan Taufiq, Aku Rahman, maaf, kamu siapa?”
“Taufiq, ini aku Lia” air mata Lia mulai menghiasi matanya.

Di saat kisah cinta yang baru saja dimulai, ingatan Taufiq kembali hadir. Kembalinya ingatan Taufiq harus dibayar mahal dengan hilangnya memori kisah hidup barunya itu. Namun dia masih teringat dengan sosok wanita dengan mata itu, dia melihat air mata Lia, teringat janji yang ia lantunkan kepada Tuhannya, bahwa ia mencintai wanita itu. Keadaan ini membuat Taufiq berada dalam suasana yang sangat membingungkan. Pilihan antara harus menjalani amanat dan perintah dari orangtuanya untuk menikahi Neng Nadhil dan menjalani hari-hari indah saat bersama Lia dan keluarga barunya. 

Pilihan diantara Restu dan Janji. 

***

Tiada yang tahu taqdir tuhan, setelah lulus meneruskan sekolah, Lia harus pergi untuk kembali ke daerah asalnya. Menambah rasa sakit dalam hatinya, terbuktilah nasehat pak Ahmad dulu.

“Taufiq, maaf maksudku, Rahman, aku pamit pergi, terimakasih atas kenangan yang kau berikan, bukan maksudku meninggalkan dirimu karena sakit hatiku, namun aku harus kembali ke asalku”

“Sepenuh maaf dariku, kedatanganku ke Kalimantan ini, atas perjodohan dari keluargaku yang harus aku wujudkan, Lia maaf” 

Bayangan tentang Lia pun belum juga dapat hilang dari benak Taufiq, entah kenapa air mata yang meleleh dari kelopak mata gadis itu membuat Taufiq membeku dalam ketakutan. Air mata Lia membuat Taufiq sadar bahwa Lia mencintainya.

Namun Lia harus pergi meninggalkan dirinya, membawa rasa sakit dalam hati, membawanya pergi untuk selamanya.

Hati kecil yang tengah sepi selalu berbisik dalam takut, membuat hatiku gulana memilih Restu atau Janji.

***

Tiba saatnya ia bertemu dengan jodohnya, ia berangkat menuju Banjarmasin untuk bertemu dengan bidadarinya, bidadari yang telah dipilih dan direstui oleh keluarganya. Berbekal keyakinan dalam hati, tawakkal, dan kepasrahan, serta berserah diri kepada Sang Pemilik Jagad Raya, Taufiq menuju ke rumah Kiai Yusuf, ayah dari Neng Nadhil, wanita yang dijodohkan keluarganya.

Disinilah kepasrahan Taufiq dalam teka-teki cintanya memuncak, teka-teki Di Dalam Restu dan Janji, siapa bidadari yang akan mendampingi hidupnya kelak.

Bergetar hati Taufiq saat pandangannya beradu dengan calon bidadarinya yang akan menjadi pelengkap separuh imannya. Bibirnya membisu bahagia, hatinya tak berhenti bertasbih. Seakan mimpi, pandangan Taufiq masih terpaku pada sosok anggun nan bersinar wajahnya.

“Kamu? Kamu bidadari milikku?”

Air mata yang kembali menetes dari wajah cantik itu membuat ingatannya serontak mundur mencari nama gadis bermata indah “NadhilLia Resty Jasmiena”.

Gadis yang dicintainya, ternyata gadis yang dijodohkan keluarganya. Neng Nadhil adalah Lia, NadhilLia Resty Jasmiena. 

Dan kini Taufiq mendapatkan Restu dalam Janji, Janji dalam Restu. Di dalam Restu dan Janji, Kaulah bidadari itu.

***

“Saat Kucoba menepis bayangmu aku tak bisa, kamu adalah kenangan terindah bersama waktu. Dan biarlah aku bermain bersama rindu ini, rindu yang akan kubawa ke surga nanti. Lalu kupersembahkan kepadamu, sebagai mahkota berbalut permata”

“Cinta yang agung adalah ketika kau menitihkan air mata dan masih peduli dengannya, adalah ketika dia tak memperdulikanmu, namun kau masih menunggunya dengan setia, adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kau masih bisa tersenyum, sembari berkata “Aku turut bahagia untukmu”. (Kahlil Gibran)

“Apabila cintamu tak berhasil, bebaskan dirimu, biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi, ingatlah bahwa kau akan menemukan cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati, maka kamu tidak perlu mati bersamanya. Orang yang kuat bukan mereka yang selalu menang, melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh” (Kahlil Gibran)

[“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak”]                {Q.S. Al-Baqarah : 216}
Think and Feel it!

NEXT⏩

0 komentar:

loading...